MIMPI KELANA

Foto were taken by Retha at Merzouga desert, Morocco

MIMPI KELANA

Seseorang pernah bertanya,

“Ima, kamu kenapa sih aktif terus. Bergerak terus. Memangnya gak capek ya?”

Aiiih…

Kata siapa saya bergerak terus?

Kata siapa saya bergiat terus?

Saya sama seperti yang lainnya juga.

Makan dan tidur.

Kadang diterjang malas.

Kadang gak ngapa-ngapain berhari-hari (meski tetap masak bersih-bersih).

“Oh ya? Tapi kok saya lihat aktif terus. Padahal lagi di luar negeri. Jauh dari tanah air.”

Oh, maksudnya menjalankan bisnis baru bernama Kelana Cahaya Tour ya?

Teman saya buru-buru mengangguk.

Baik.

Saya jawab apa adanya ya🙂

Saya senang memelihara mimpi.

Jika kamu pernah membaca tulisan panjang saya pada tahun 2013 awal di blog www.honeymoonbackpacker.com maka kamu akan mengerti kenapa saya senang bermimpi.

Mimpi adalah gairah.

Mimpi adalah semangat.

Mimpi adalah cambuk.

Mimpi adalah kerja keras!

2013 awal saya bermimpi mengajak suami berkelana sekaligus #dakwahbackpacking sepanjang Ramadhan di benua lain.

Alhamdulillah telah terwujud 3 tahun berturut-turut. Beyond our dream that time!

Meski harus membuat pempek siang malam di rumah host kami di Belgia, kemudian menjualnya dari satu pengajian ke pengajian lain -tentu saja setelah Aa selesai ceramah, saya bangga bisa mewujudkan mimpi.

Suami saya awalnya sangsi dengan mimpi dakwahbackpacking. 

Apa mungkin?

Eropa kan mahal.

Aku hanya guru pesantren.

Tapi mimpi saya yang akhirnya menjadi mimpi berdua berhasil menepis ketidakmungkinan menjadi kata ‘kerja’.

 Yaitu kerja keras dan berdoa.

Alhamdulillah terwujud.

Jika sudah begini, kenapa kami harus berhenti bermimpi?

Teman saya menatap takjub.

“Lalu apa mimpi kalian sekarang?”

Baik.

Ini pertanyaan makin menjurus ya.

Saya dan si Aa sepakat menumbuhkan Kelana Cahaya Tour sebagai income generator!

“Income generator alias mesin uang bagi kalian? Wow, mantap tuh!”

Saya menggeleng. Lalu menjawab tegas.

Bukan mesin uang untuk kami. Kami sudah cukup makan. Cukup pakaian. Bisa tinggal di rumah sederhana. Kami sudah merasa kaya. Kami selesai dengan dunia material.

Kelana Cahaya Tour dilahirkan insyaAllah sebagai alat kami mewujudkan mimpi yang lebih besar!

Mungkin terdengar utopia bagimu, Kawan.

Tapi sekali lagi saya tegaskan, ini mimpi besar kami.

Kami ingin membangun lembaga pendidikan -apapun namanya dan jenisnya nanti- untuk anak-anak dhuafa berprestasi yang ingin belajar. Agar kelak berkelana memaknai dunia dengan lebih baik.

Untuk mewujudkan mimpi ini kami harus menyiapkan diri.

Aa sedang menempuh pendidikan lanjut. 

Sedang saya fokus bekerja untuk Kelana Cahaya Tour.

Harapan kami, semua keuntungan finansial Kelana Cahaya Tour bisa kami tabung sebaik-baiknya.

Simpan dan kelola lalu segera dibelikan tanah begitu ada lahan yang cocok. Syukur-syukur bisa bertemu orang yang mau mewakafkan tanah miliknya. Jadi keuntungan bisnis Kelana Cahaya Tour fokus untuk membangun infratruktur calon Pesantren Kelana.

Mohon doakan Kelana Cahaya Tour bisa membesar dan mempekerjakan orang lain.

Saat pendidikan Aa telah tuntas dan tabungan sudah mencukupi, kami akan membangun bata pertama Pesantren Kelana dan Rumah Kelana.

Doakan kamI istiqomah menghidupi mimpi ini ya, Kawan!

“Wow. Serius sekali mimpimu, Ima.”

Ya. Kami serius.

Semoga Allah mudahkan.

Dan ssst, kalau pakai jasa Kelana Cahaya Tour jangan ditawar lagi ya.🙂

Kalau kamu ikhlas menggunakan jasa kami, ada tabungan amal jariyahmu di situ.

InsyaAllah!

PS.

Akhir Desember 2016 Kelana Cahaya Tour akan membuka backpacking trip santai ke Eropa Timur, antara lain ke Austria, Praha dan Budapest. 

Maksimal 14 peserta saja.

Yang berminat bergabung segera sapa saya di WhatsApp: +62 819 5290 4075.

Kiblat dan Respek

Kiblat dan Respek

Salah satu aplikasi yang kubiarkan terpasang di handphone adalah kompas. Dia yang akan memandu arahku melangkah menapaki jengkal demi jengkal tanah destinasi yang baru aku kunjungi. Di sisi lain, dan ini yang paling penting, memudahkanku mencari arah kiblat ketika akan menunaikan shalat. Cukup mengetahui arah utara, maka akan diketahui arah lain, barat, timur, dan selatan. Dari situ bisa aku perkirakan arah kiblat dengan mudah. Saat berada di benua biru, misalnya, arah kiblat kurang lebih ada di tenggara. Lebih akurat lagi sih aplikasi www.muslimpro.com atau www.islamicfinder.org

Tak seperti biasanya, malam itu aplikasi kompas tak aku pasang karena space-nya penuh. Ketika terbangun pagi dan lantas ke dapur umum hostel untuk mengambil air minum, seorang petugas berbadan subur sedang menyiapkan segala rupa untuk sarapan beberapa saat lagi. Kami saling menyapa dan menyunggingkan senyum.

“Hai, good morning” Sapaku.

“Good morning.” Responnya ramah.

Kendati harganya relatif murah, hostel di kota Lisbon yang satu ini tampak modern dan homy. Dibuat senyaman mungkin. Dari mulai fasilitas yang lengkap hingga keramahan petugasnya. Wajar jika reviews di booking.com mencapai nilai tinggi. Sembilan koma satu.

Pagi itu belum tampak banyak orang. Rupanya mereka lelap dalam istirahat. Subuh memang waktu paling enak untuk tidur ya. He he.

“Excuse me, please madam, could you help me. Pintaku sebelum mengungkapkan maksud.

“Yes.”

“Where is the north from here?”

Sebenarnya aku mau bertanya arah kiblat, tapi tidak tahu apa arti kiblat dalam bahasa Inggris. Ditambah, untuk memudahkan dia menjawab, aku cukup bertanya arah Utara atau Barat.

Kiblat adalah arah posisi Ka’bah berada, yaitu di kota Mekkah, di tengah-tengah mesjidil haram. Memang kiblat tak mesti di arah Barat. Tergantung kita sedang berdomisili di negara mana saat itu. Untuk orang yang sedang berada di Indonesia, arah kiblat berada di sebelah Barat, sedikit bergeser ke kanan (mendekati Barat Laut). Sementara bagi penduduk benua Afrika seperti Maroko, Mesir, atau benua Eropa, kiblat justru berada kurang lebih di arah sebaliknya, yaitu arah tenggara. Lain lagi orang yang sedang berada di mesjidil haram. Justru kiblat bisa dari segala arah. Bahkan orang shalat sama-sama menghadap kiblat tapi saling berhadapan, sebab Ka’bah ada ditengah-tengah.

“Hm.. I think..there..hm. But I’m not sure. I think there.” Ia tergagap menjelaskan. Entah karena benar-benar tidak tahu, entah karena pertanyaan ini dianggap iseng.

Kemudian ia kembali menyusun gelas dan piring di meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali memanggilku. Rupanya ia kembali berpikir kenapa kok pagi-pagi bertanya soal arah. Terasa sangat aneh.

“Excuse me, what for do you ask me that?” Dia kembali bertanya.

“I have to pray. So I have to know where is the right direction for us.” Jawabku meyakinkan.

Ekspresi wajahnya kemudian tersentak kaget. Agaknya dia merasa betapa urusan ibadah dan berdoa bukan masalah sepele.

Oh, okay, wait me please. Sorry ya. I think you are just asking. I have to take my mobile phone and check it first, please.”

Aku juga merasa kaget dengan respon kedua yang terlihat lebih antusias mencari tahu daripada respon yang pertama tadi.

Saat merasa dianggap pertanyaan iseng, aku tak ngotot memaksa dia memberitahuku. Toh aku bisa berijtihad menentukan arah semampuku. Bukankah dalam Al-Quran pun diungkapkan, “Fa ainamâ tuwallû fa tsamma wajhu Allah.” Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah. Jika sudah berusaha mencari arah kiblat namun tak mendapatkan hasil yang pasti, shalat saja kemanapun mengarah.

Dia lalu berjalan menuju information desk. Aku disuruh mengikutinya. Ia membuka hp dan mendownload aplikasi kompas yang ternyata belum terpasang.

“Do you have to pray now?”

“Yes of course.”

“So how many times you have to pray?”

 “We have to pray five times within 24 hours.”

“Really?”

Yes.”

“When?”

Masya Allah, bismillah inilah saatnya aku menyampaikan (tabligh) pada orang yang belum mengetahui. Sederhana tapi mendasar dan sangat penting.

“Subuh will be done at dawn to sunrise, should be performed at least 10-15 minutes before sunrise. And we pray zuhur after true noon until afternoon (Ashar). The we pray again afternoon. We pray magrib after sunset until dusk. The last is Isya. We could perform it from dusk until midnight or dawn. We could do it flexibel as long as within the time.”

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

“How many hours do you spend for each pray?”

“Only five or ten minutes.”

 “You have to do it even you are travelling like now?”

“O, No. When we are travelling (safar) we may do it only three times.”

“How do you do that?”

“I mean, zuhur and ashar in one time, magrib and isya in one time. And subuh like now, in one time.”

Dia mengangguk-ngangguk.

“So, I’m sure the north is there. See it!”

Dengan penuh semangat dia mendekatkan hp-nya dan menunjukkan jarum kompas.

“Right.” Jawabku puas.

Dia tersenyum bahagia setelah tuntas membantuku menemukan arah yang aku cari. Sebagaimana kepuasan dan kebahagiaan yang aku rasakan setelah aku bisa menyampaikan sesuatu yang dia belum ketahui. Ditambah rasa salut atas sikap respeknya terhadap orang yang ingin menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan penganutnya. Terlepas dari motif dan alasan dia membantuku. Apakah murni membantu atau demi memuaskan konsumen. Yang pasti tak ada rasa bete, acuh, atau benci.

Akhirnya pagi itu ada dialog keagamaan dengan seorang petugas hostel di jantung kota Lisbon. Temanya ringan namun agak berat bagiku sebab bahasa Inggris-ku yang masih terbatas. Kendati demikian, alhamdulillah pertanyaan demi pertanyaan dapat aku jawab. Semoga saja dialog semacam ini memacuku untuk terus belajar menyampaikan ilmu dengan baik. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Aku pun jadi berpikir, jika orang lain beranggapan negatif terhadap Islam, mungkin karena mereka belum mengetahui kemuliaan ajaran Islam secara benar dan detail. Bisa jadi hanya karena menyaksikan media yang menampilkan secara sepihak perilaku negatif sebagian umat Islam, mereka membuat kesimpulan yang salah bahwa Islam mengajarkan hal yang tidak baik.

“Ok, thank you, madam.”

Saya mengakhiri pembicaraan karena langit perlahan benderang.

“You are welcome.”

Responnya sembari membetulkan posisi kacamata tebalnya.

Aku pamit dan bergegas menuju kamar bed-dormitory 501.4 yang berisi delapan orang. Dari kamar berukuran 4×4 meter yang masih senyap, aku melipir ke balkon dan menggelar matras biru. Allahu Akbar! Wahai Allah, Engkau Dzat yang Mahabesar.

Catatan dari Lisbon, 24 September 2016

Keto Meatball

Yay, my ‘keto meatball’ is ready!

Nom nom nom.

The recipe is so easy. Just really similar to our easy spontaneous journey around the world!

First, you just need to blend the mince meat from beef with mince turkey meat about 300 gram together.

Then add on mince meat these ingredients: four white eggs, salt, pepper, nutmeg, fried onion, garlic and butter little bit before blending them with food processor.

After that just shape the batter into each little ball with spoon and your fingers and put it into hot water.

After finishing them all, just boiled until all balls are floating inside the hot pot. 

Tadaaa, my ‘keto meatball’ is ready to be eaten!

Be keto be healthy along your journey! 

Sangkuriang dan Koper

Proyek sangkuriang akhirnya mulai dikerjakan pukul 00.30.

Kenapa saya katakan sangkuriang?
Karena biasanya proyek kasih sayang melalui perut ini dilakukan bersama si Aa🙂

Sempat enggan mengerjakan karena tak ada partner yang akan memotong-motong si ikan fillet menjadi ukuran kecil sebelum dimasukkan food processor.

Tapi ternyata Mbak Erni berkenan membantu memotong.

Dan saat saya mulai start menghaluskan dilanjutkan membentuk pempek, Kak L berkenan jadi asisten.

Alhamdulilah, si pempek berhasil tuntas diproduksi pukul 04.30 pagi setelah diselingi istirahat sambil sahur smoothie karya Kak L dan menikmati pempek goreng crunchy di luar lembut di dalam!
Alhamdulilah bisa makan pempek kesayangan saat sahur.

Habis shalat Subuh tidur sejenak
Kurang lebih 3.5 jam.

Masih mengantuk, tapi entah kenapa hati merasa kurang nyaman.

Rasanya ada yang salah dengan tidak membawa bagasi kali ini.
Sudah berkali-kali saya timbang, koper kecil beratnya kurang lebih 10 kg.
Ransel besar pinjaman Kak Lely rasanya terisi barang kurang lebih 5 kg.
Tapi masalahnya ada hand bag mungil si Eiger women series kesayangan dan 1 tas tipis berisi laptop.
Sementara peraturan Ryanair hanya boleh membawa 1 koper kabin dan 1 tas tangan for free.
Kalau ada 3 tentengan begini rasanya kok meragukan ya?

Kalau nanti ransel besar yang saya panggul minta ditimbang oleh mereka, sungguh berabe jadinya. Meski selama ini belum pernah kejadian, karena saya selalu haqqul yaqin dengan packing yang compact. Namun sayangnya kali ini saya lupa tidak membawa tas lipat polkadot kesayangan yang pas diletakkan di atas koper kabin. Sementara ukuran besar si ransel yang dipinjami Kak L ukurannya cukup besar tuk ukuran tubuh saya. Tampak kurang proporsional saat saya pakai. Bisa-bisa tidak akan dianggap hand bag oleh mereka.
Hem…
Tampaknya saya harus konsultasi dengan Kak L.

Hati sungguh meragu kali ini. Apalagi tak ada si Aa sebagai partner diskusi.

“Kak, tampaknya saya beli bagasi saja. Supaya tenang hati. 3 tas rasanya unacceptable by the rule.

Saya sudah coba browsing dari hape. Tapi entah kenapa sedang tak bisa diakses melalui mobile phone.

Kalau koper dan ransel dianggap over baggage, maka saya harus membayar 50€. Sungguh angka tak sedikit untuk saya, Kak.
Lebih baik saya beli sekarang saja, Bismillah.

Bisa tolong dibantu sekalian dibelikan bagasi, Kak?”

“Ok. Langsung saja kita beli.”

Kak L dan Kak T langsung turun tangan. Duduk depan laptop dan mulai menjelajah website Ryanair.

Saya deg-degan.
Alhamdulilah, setelah 10 menitan berlalu, bagasi ditambahkan. 15 kg saja.

Pyuh, lebih dari lega.

Tahu-tahu Kak L langsung mengusulkan bongkar barang.
Eh?
“Ima Kan sudah nambah bagasi 15 kg. Pindah semua yang berat ke koper 15 kg. Nanti Kakak ambilkan koper di gudang.

Lalu, tahu dkk yang kamu tinggal di kulkas bawa saja semua. Pokoknya kita maksimalkan.

Do it quick!”

Kak Lely langsung ke attic mengambil koper ukuran lebih besar dari milik saya.

Lalu mengambil beberapa kotak tahu. Juga mengambil keju dkknya.

Saya gugup packing. Mengingat schedule berangkat kami dari rumah jam 11 siang.
Yang akan berangkat terbang naik pesawat tidak hanya saya. Mbak Erni dan suaminya juga akan menuju Iceland. Meski pesawat mereka masih nanti malam, tapi mereka sudah membeli tiket kereta Thalys menuju Paris pukul 15.13 nanti.
Tanpa diminta, Mbak Erni tamu dari Canada ikut turun tangan membantu.

Setelah selesai, Kak T langsung menimbang koper lebih besar. Disisakan 1 kg free untuk jaga-jaga.

Koper kecil segera ditimbang juga. Ternyata masih ada space 4-5 kg.

Kak Lely langsung memasukkan bahan makanan tambahan. Beliau berhitung sangat cepat.

Everything is set in only 10 minutes. Amazing!

Beriringan kami menuju mobil.
Kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Charleroi Airport.
Saya terus menggumamkan, “Allahumma yassir wa la tu’assir.”

Berharap dipermudah segala urusan oleh Allah azza wa jalla.

Saat tiba di Charleroi Airport, antrian mengular di arriving hall. Merintangi jalan kami menuju Departing hall.

Kak L yang semula memutuskan hanya drop berubah pikiran. Beliau memutuskan ikut masuk. Meski penjagaan sangat ketat, tapi pengantar boleh masuk. Alhamdulillaah.

Saat koper bagasi ditimbang, pas 15 kg. Pyuh!
Saat cabin baggage ditimbang, tepat 10 kg juga.
MasyaAllah!
Dan ajaibnya, sang petugas check in menanyakan apakah saya mau kalau koper kabin saya dimasukkan bagasi sekalian for free?

Eh?

“OK. We take it!” Kak Lely manyahut.

Enak kan Ima, bisa melenggang kangkung tanpa koper satu pun. Rizki Ramadhan-mu.

Alhamdulilah.

Saya speechless. Terharu. Langsung memeluk Kak L. Berkali-kali.

“Sudah ya, masih ada yang harus Kakak antar ke stasiun Brussels.”

“Iya, Kak. Jazakallah khairan katsira. Uhibbuki fil Laah.”

Bismillah, finally going home, home is where your heart is.

Aa, your wife is coming!🙂

NIAT BAIK BERTEMU PASSION

image

Masih ingat dengan tulisan saya di blog yang judulnya, PASSION?

Saat itu saya menulis mengalir saja.

Meluapkan isi hati sehabis menemukan fakta-fakta diri sendiri setelah puluhan tahun mengembara sejak usia orok.

Yup, usia 5 tahun saya mulai bepergian ‘serius’ dalam arti naik pesawat! Rute terbang pertama saya Mekkah ke Madinah, hihihi.

Kata Abah saya, saya bahkan ngompol saat penerbangan Jeddah menuju Jakarta! MasyaAllah, memalukan Indonesia saja, Ima!

Lalu saya mulai berkelana dengan kapal laut besar untuk pertama kalinya di usia 13 tahun. Meninggalkan Yogya dimana saya ‘mesantren’ menuju kampung halaman di Kalimantan Selatan sana.

Semenjak itu, mulailah saya berputar mengelilingi bumi sebagaimana bumi berputar mengitari orbitnya, sang matahari!

Perlahan tapi benderang, perjalanan menjadi matahari saya.

Saat susah saat gundah, berjalan menyamankan hati.

Saat senang saat suka, berjalan memperkaya rasa.

Perjalanan juga mengajarkan saya untuk bersikap berani.

Memulai belajar bisnis berdasarkan ‘passion’.

Meski bukan siapa-siapa dan tanpa modal, saya dan Aa terus tumbuh dan belajar di dunia bisnis traveling.

Tak usah mengejar untung besar, yang penting rutin dan berkah.

Definisi rutin kami pun ajaib. Minimal rutin membawa tamu setahun sekali. Hehe. Sungguh tak ambisius ya!

Dimulai 2013 ke Mesir. Membawa 18 tamu dengan budget 13.5 juta all in (termasuk tiket pesawat Jakarta Cairo PP) jelajah Mesir mulai Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel di perbatasan Sudan hingga mendaki Gunung Sinai.

Alhamdulillaah jadi milestone pertama kami dan belajar banyak dari trip perdana ke luar negeri tersebut.

Sepanjang 2012-2014 juga fokus jelajah Indonesia bersama Muslimah Backpacker.

2015 pertama kali kami membuka rute umrah. MasyaAllah ajaib rasanya bisa memberangkatkan Mama mertua sekaligus. Alhamdulillaah!

2016 ini InsyaAllah kami mulai panen kepercayaan para pembaca blog http://www.honeymoonbackpacker.com

Alhamdulilah Maroko Trip Super Promo di bulan November 2016 nanti sudah terisi 25 seat. Awalnya hanya menargetkan maksimal 15 orang saja. Ternyata jumlah tamu terus bertambah.
Kita lihat akan sampai angka berapa?🙂

Yang semula direncanakan akan kombinasi ‘ngeteng’ dan sewa bis, kemungkinan besar akan berubah menjadi full sewa bis! Karena sharing budget biaya sewa bisa dibagi banyak kepala. Kalau bisa lebih nyaman kenapa harus ngeteng mengejar-ngejar public transportation?🙂

Penginapan yang semula direncanakan non bintang semua, hem, we will see!

Intinya, kami makin excited dengan perkembangan jumlah peserta yang terus berdatangan dan langsung DP biaya paket trip.

Kami percaya, ini semua terjadi karena izin Allah semata.

Barangkali niat baik ingin menabungkan keuntungan Maroko Trip untuk membeli batu bata pesantren enterpreneurship kami diizinkanNya untuk mulai diwujudkan.

“Jangan boros Ima! Tetap sahaja dan fokus. Allah bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja!”

Semoga kombinasi niat baik + passion kami dimudahkanNya.

image

Ps.

Yuk, masih ada beberapa seat tersisa untuk Maroko Trip Super Promo di bulan November 2016 nanti.

Detil silahkan sapa kami di whatsapp: +62819 5290 4075

Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan!🙂

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima!🙂

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.